"Research gap-nya apa?" adalah pertanyaan yang hampir pasti muncul, baik saat pengajuan judul, sempro, maupun sidang. Banyak mahasiswa bingung karena istilah ini terdengar rumit. Padahal intinya sederhana: apa yang belum diketahui atau belum dijawab oleh penelitian sebelumnya, dan bagaimana penelitianmu mengisinya.
Jenis-jenis research gap
Tidak semua celah harus berupa penemuan besar. Berikut beberapa jenis yang sering dipakai dalam skripsi:
| Jenis celah | Penjelasan | Contoh |
|---|---|---|
| Hasil penelitian tidak konsisten | Penelitian terdahulu memberi hasil berbeda-beda | Sebagian menyatakan X berpengaruh terhadap Y, sebagian tidak |
| Konteks/populasi belum diteliti | Topik sudah diteliti, tapi belum di subjek atau tempat tertentu | Banyak diteliti di kota besar, belum di daerah |
| Metode berbeda | Topik diteliti dengan satu pendekatan, belum dengan pendekatan lain | Banyak survei, sedikit kajian kualitatif mendalam |
| Variabel/kombinasi baru | Hubungan tertentu belum diuji | Peran mediasi variabel M belum diteliti |
| Fenomena baru | Muncul kondisi atau teknologi baru | Pola belanja setelah fitur belanja di media sosial |
| Kesenjangan teori dan praktik | Teori menyatakan A, tapi kondisi lapangan menunjukkan B | Program sudah berjalan tapi capaiannya rendah |
Langkah menemukan research gap
1. Mulai dari topik yang sudah agak spesifik
Research gap sulit dicari dari topik yang terlalu luas. Persempit dulu, misalnya dari "pemasaran digital" menjadi "pengaruh ulasan online terhadap minat beli produk kecantikan".
2. Kumpulkan 15–30 artikel jurnal terbaru
Utamakan artikel 5 tahun terakhir. Sumber yang bisa dipakai:
- Google Scholar (urutkan berdasarkan tanggal atau gunakan rentang tahun).
- Garuda dan SINTA untuk jurnal nasional.
- Basis data internasional yang disediakan perpustakaan kampusmu.
3. Baca bagian yang paling "kaya celah"
Kamu tidak harus membaca setiap artikel dari awal sampai akhir. Fokus pada:
- Abstrak untuk gambaran umum.
- Pembahasan, untuk melihat apakah hasilnya mendukung atau bertentangan dengan penelitian lain.
- Keterbatasan penelitian dan saran untuk penelitian selanjutnya. Bagian ini sering secara langsung menyebut celah yang belum diteliti.
4. Buat matriks literatur
Rangkum setiap artikel dalam satu baris:
| Penulis (tahun) | Variabel/fokus | Subjek & tempat | Metode | Hasil utama | Saran/keterbatasan |
|---|---|---|---|---|---|
| Penulis A (2023) | X → Y | Mahasiswa, Jakarta | Survei, regresi | X berpengaruh positif | Perlu diteliti di daerah lain |
| Penulis B (2024) | X → Y | Karyawan, Surabaya | Survei, SEM | X tidak berpengaruh | Tambahkan variabel mediasi |
Setelah 15–30 baris, pola akan terlihat: hasil yang bertentangan, subjek yang belum tersentuh, atau saran yang berulang.
5. Rumuskan celahnya dalam satu kalimat
Contoh: "Penelitian tentang pengaruh X terhadap Y menunjukkan hasil yang tidak konsisten, dan sebagian besar dilakukan pada konsumen di kota besar, sehingga perlu diuji pada konsumen di kota menengah dengan menambahkan variabel M sebagai mediasi."
6. Cek ulang kelayakannya
Celah yang bagus tetap harus bisa diteliti: datanya tersedia, metodenya kamu kuasai (atau bisa dipelajari), dan waktunya cukup. Celah yang terlalu ambisius justru bisa membuat judul ditolak.
Contoh menuliskannya di latar belakang
Research gap biasanya muncul di bagian akhir latar belakang, setelah fenomena dan penelitian terdahulu dipaparkan. Polanya kurang lebih:
- Fenomena atau masalah di lapangan (didukung data).
- Teori yang menjelaskan hubungan antarvariabel.
- Penelitian terdahulu, termasuk hasil yang berbeda-beda.
- Celah: apa yang belum dijawab.
- Posisi penelitianmu: bagaimana penelitian ini mengisi celah itu.
Tulis dengan bahasamu sendiri dan sebutkan sumbernya dengan benar. Matriks literatur membantu, tapi menyalin kalimat dari artikel ke latar belakang tanpa parafrase yang benar tetap terhitung plagiat.
Kesalahan yang sering terjadi
- Mengklaim "belum ada yang meneliti" tanpa benar-benar mencari. Penguji bisa saja tahu penelitian yang mirip.
- Celahnya hanya "tempat penelitian berbeda" tanpa alasan kenapa tempat itu penting.
- Rujukan terlalu lama, sehingga celah yang diklaim ternyata sudah diisi penelitian baru.
- Research gap tidak nyambung dengan rumusan masalah.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah skripsi S1 wajib punya research gap? Tuntutannya berbeda antarprodi, tapi hampir semua dosen ingin melihat alasan kenapa penelitianmu perlu dilakukan. Research gap adalah cara paling jelas untuk menunjukkannya.
Berapa jumlah rujukan yang ideal? Tidak ada angka baku. Yang penting cukup untuk menunjukkan peta penelitian di topikmu, dan sebagian besar terbaru.
Ingin ditemani menyusun matriks literatur?
Pembimbing kami bisa membantu mencari dan memetakan jurnal terbaru, lalu mendiskusikan celah yang paling layak untuk penelitianmu. Latar belakang tetap kamu yang menulis. Lihat layanan bimbingan.


